Assalamualaikum... Mama apa kabar?
Semoga senang ya kumpul kembali sama mas dan Papa, aku yakin mereka juga senang ketemu Mama.
Alhamdulillah aktivitas rumah sudah kembali normal setelah sebulan nggak ada Mama.
Awalnya memang terasa sangat berat untuk kami, but life must go on, right?
Aku & mbak lebih sering memasak sekarang, mencoba mengingat-ingat resep dan rasa dari masakan Indonesia buatan Mama. Ternyata kami nggak tahu apa-apa tentang masakan Indonesia dan lebih sering googling resep.
Dan rasanya... Yaahhh not bad lah, meskipun kadang kami kelupaan sesuatu atau melakukan kesalahan hehehe.
Kalau ada Mama pasti kami sudah diomelin karena jarang masak makanan Indonesia.
Tapi aku tau mama yakin kalau putri-putrinya bisa masak, karena kami putrimu!
Yup, kami terbiasa dengan segala masakan mama. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk terbiasa di dapur.
Mungkin sekarang saat yang tepat, apalagi satu bulan lagi Arzan mulai MPASI and I can't share it with you.*cry
Arzan juga sehat-sehat ma, terakhir imunisasi tanggal 5 lalu, suhu badannya sempat naik seperti biasa, but he's fine.
Timbangannya pun selalu bertambah, sekarang aku nggak khawatir mama keberatan nggendong Arzan.
But I'm sure he miss your lullaby a lot.
I'm thinking, Can I be a good housewife just like you? I miss you a lot...
Salam,
Anak Ragil
Showing posts with label Family & Friends. Show all posts
Showing posts with label Family & Friends. Show all posts
Tuesday, May 23, 2017
Monday, August 1, 2016
Sabtu (terakhir) Bersama Bapak
Saya
belum pernah membaca novel Sabtu Bersama Bapak karangan Aditya Mulya,
menonton filmnya juga belum. Sebenarnya libur lebaran lalu ada keinginan
untuk pergi ke bioskop dan menonton filmnya, tapi karena jadwal
unjung-unjung sanak saudara yang padat serta perasaan mual karena hamil
muda membuat saya menyampingkan keinginan saya. Dan pada akhirnya takdir
menuliskan untuk saya cerita lain yaitu Sabtu (terakhir) Bersama Bapak.
Sabtu
sore tanggal 23 Juli 2016, saya melangkahkan kaki saya dengan
berhati-hati di atas tanah basah, melewati nisan demi nisan milik
penghuni makam yang sudah mendahului. Dengan perut yang mulai membesar,
mata merah dan basah, saya mencoba untuk tegar dan tenang karena saya
ingin mengantarkan bapak untuk terakhir kalinya di peristirahatannya,
setelah bapak menunaikan kewajibannya mengantarkan saya sekolah jenjang demi jenjang, hingga yang terakhir mengantarkan saya di pelaminan kepada pria yang menjadi
suami saya saat ini. Saat saya sendiri ragu, beliau yang memantapkan hati saya.
Subscribe to:
Posts (Atom)