Thursday, August 25, 2016
Tiga Dara (Hasil Restorasi) : Review
Mengisahkan tiga kakak beradik perempuan yang tinggal bersama Nenek dan Ayah mereka. Kakak tertua (Nunung) baru saja genap umurnya 29 tahun yang membuat si Nenek begitu bimbang, umur hampir tiga puluh tetapi belum juga menemukan jodohnya. Sifatnya yang tidak mudah bergaul dengan lelaki sungguhlah bertolak belakang dengan adik-adiknya (Nana dan Nenny).
Si Ayah tidak ambil peduli karana kesebukannya, tetapi dengan ancaman dan permintaan terakhir si Nenek sebelum ajalnya sampai, terpaksa dia mengambil tindakan dan berusaha mencarikan jodoh untuk Nunung. Sayangnya, perangai Nunung yang tidak peramah membuatnya sukar diterima dikalangan teman-teman lelaki Nana dan Nenny.
Suatu hari ketika sedang berjalan di pasar, Nunung tertabrak sepeda motor yang dikendarai oleh seorang pemuda bernama Toto. Nunung yang kesal tak henti memaki, Toto yang menawarkan untuk menghantar pulang sebagai usahanya memohon maafpun ditolaknya.
Tidak mengalah, Toto mengikuti Nunung yang menaiki becak pulang ke rumahnya untuk datang kembali keesokan harinya meminta maaf dengan berbekalkan bunga. Namun Nunung masih tidak menerima justru menolak kehadiran Toto dengan kasar.
Nana melihat Toto sebagai pemuda yang berwibawa, jatuh hati sejak pertama kali bertemu, ia pun berusaha mendekatinya. Toto kemudian rapat dengan Nana yang mana ini membuat Nunung cemburu. Bagaimanapun, rasa ego Nunung lebih tinggi dibandingkan dengan sukanya dia kepada Toto.
Toto yang masih mengharapkan Nunung, coba mendekati Nunung melalui Nana. Namun karana keakraban Toto dengan Nana, hingga membawa terjadinya pertunangan.
Si Nenek begitu terkejut dan menolak pertunangan tersebut. Menurutnya, jika Nana kahwin dulu dari Nunung, Nunung akan jadi perawan tua seumur hidup. Nana begitu marah pada Nunung, dan ini menyebabkan drama yang menarik dalam kisa persaudaraan mereka.
Itulah kutipan sinopsis film Tiga Dara yang saya copas dari situs cineplex 21. Kebetulan sekitar dua minggu lalu saya berkesempatan nonton filmnya, cuma belum sempat posting di blog ini.
Kalau nggak salah film ini sempat diputar di salah satu stasiun TV swasta tahun 90 akhir atau awal 2000 an, saya agak lupa. Yang saya ingat waktu pulang sekolah siang-siang saya nonton sama mama tapi sekarang juga sudah lupa sama ceritanya.
Dan akhirnya sekarang ada kesempatan buat nonton lagi, malah bukan di TV tapi di bioskop hasil restorasi dari roll film yang sudah lama dan usang. Ini adalah hasil kerja keras dari kru restorasi film tersebut yang telah "menyelamatkan" gulungan film sehingga film yang diproduksi 64 tahun lalu bisa dinikmati saat ini.
Awalnya saya memang nggak terlalu antusias nonton filmnya, cuma mau nemenin mama aja yang sudah ngasih "kode" waktu iklannya muncul di TV, tapi ternyata... saya dan kakak saya (yang juga ikut menemani) setelah nonton film tersebut sangat menikmatinya.
Terbukti film karya sutradara Usmar Ismail ini klasik & everlasting, meskipun film ini diproduksi pada tahun 1952, dimana Indonesia belum genap sepuluh tahun merdeka tapi permasalahan & konflik yang disuguhkan masih sering ditemui di zaman sekarang (termasuk di keluarga saya).
Selain itu kita bisa tahu budaya "kekinian" pada masa itu, seperti digambarkan pesta atau kumpul-kumpulnya anak muda waktu itu mulai dari menari tarian melayu lengkap dengan orkes pengiringnya sampai dansa yang lebih modern layaknya film barat.
Yang membuat saya tertarik adalah aktor dan aktrisnya. Dari semua nama yang paling saya ingat dan tahu cuma Mieke Widjaja yang ternyata waktu muda cantiiiiikkkkkk... banget, yang nggak kalah cantik ada Indriati Iskak dengan wajah blasteran dan Chitra Dewi dengan wajah ayu Indonesianya.
Saya kira bioskop akan di isi kebanyakan oleh warga senior/sepuh yang berniat nostalgia, tapi ternyata nggak juga tuh. Untuk penayangannya yang saya tahu ada di beberapa kota besar di Indonesia. Di Surabaya hanya diputar di XXI Ciputra World, untuk info pemutarannya bisa dicek langsung aja ke sitenya di 21cineplex.com
Semoga akan ada film-film klasik Indonesia berkualitas lainnya yang akan diputar di boskop.
Monday, August 15, 2016
Half way to go
Maksud
dari half way to go dari judul di atas adalah tentunya dari My
Pregnancy Journey, half way lebih sih sebenarnya... Baru control ke
obgyn dan USG. Alhamdulillah semuanya normal. Waktu periksa kemarin
janin di kandungan udah berusia 20 minggu dan HPL nya sekitar akhir
tahun.. Amiinn
Let
me share a little about my obgyn. Jadi ini kunjungan ke dua ku ke dr.
Dewi Arofah di RSI Jemursari. So far aku merasa nyaman sama dr. Dewi,
semuanya dijelasin kalau pas sedang USG, mulai dari ukuran panjang
janinku saat ini dan dijelasin juga ukuran normalnya berapa, perhitungan
detak jantung janin, lingkar kepala, berat, tulang & organ dalam
yang telah terbentuk, panca indera, anggota tubuh, berat badan yang
harus dicapai pada bulan berikutnya, dan lainnya, komplit dah pokoknya.
Tapi nggak terkesan cerewet, dr. Dewi kalau sedang menjelaskan tone
suaranya lemah lembut, jadi adem deh hehehe.. dan nggak terkesan
terburu-buru juga.
Sekilas perkembangan di trimester ke-tiga ini adalah :
1. Perubahan fisik yang drastis
Beberapa
baju dan celana mulai nggak muat, mau belanja baju hamil tapi rada
males keluar rumah, mungkin harus bongkar-bongkar lemari mama siapa tahu
ada baju besar yang bisa dimanfaatkan, hehehe
Ini
juga satu kantor kayaknya udah mulai tahu, soalnya aku juga udah mulai
nggak pakai seragam lagi karena udah nggak muat terutama di bagian
perut. Terus aku kerja pakai baju apa dong? baju hamil? Nggak juga sih,
aku masih pakai beberapa kemejaku yang msih muat dan layak buat dipakai
kerja, untungnya selama ini aku lebih suka beli kemeja yang
loose/longgar, jadi di usia kandungan 5 bulan ini sementara
masih aman lah.
2. Berkurangnya rasa mual
Rasa
mual dan muntah memang jauuuuhhhhh berkurang, alhamdulillah juga udah
nggak pernah sampai jackpot lagi, tapi ada kalanya di saat saya merasa
lapar atau kekenyangan maka rasa mual itu muncul lagi, jadi harus
pintar-pintar ngatur pola makan.
3. Tidak bisa mengontrol pipis
Ini
sering dialami sama ibu hamil, akibat kandung kemih yang mulai terdesak
oleh rahim menyebabkan kadar air kencing yang bisa ditampung jadi
berkurang, akibatnya dikit-dikit jadi kebelet pipis, meskipun yang
keluar hanya sedikit. Aku sendiri merasakan itu, apalagi saat aku batuk,
bersin, atau muntah sering keluar nggak terkontrol, jadinya kalau
keluar rumah harus siap-siap celana dalam bersih.
4. Hidung Tersumbat
Mungkin beda-beda ya anatara bumil satu dan lainnya tapi sejak memasuki trimester ke dua ini jadi sering flu dan hidung tersumbat, sempat dikasih obat fluimucyl yang aku minum 3 hari, udah enakan tapi karena harus bolak balik ke rumah sakit karena waktu itu mama saya sempat opnam untuk pengobatan jadinya hidung tersumbat kambuh lagi.
4. Hidung Tersumbat
Mungkin beda-beda ya anatara bumil satu dan lainnya tapi sejak memasuki trimester ke dua ini jadi sering flu dan hidung tersumbat, sempat dikasih obat fluimucyl yang aku minum 3 hari, udah enakan tapi karena harus bolak balik ke rumah sakit karena waktu itu mama saya sempat opnam untuk pengobatan jadinya hidung tersumbat kambuh lagi.
Sepertinya
baru itu aja sih yang aku rasain, oiya selain itu perut juga terasa
kaku, mungkin karena ketarik akibat berkembangnya janin.
Untuk pregnancy picture belum ada, karena jadi malas & kurang suka difoto.
Monday, August 1, 2016
Sabtu (terakhir) Bersama Bapak
Saya
belum pernah membaca novel Sabtu Bersama Bapak karangan Aditya Mulya,
menonton filmnya juga belum. Sebenarnya libur lebaran lalu ada keinginan
untuk pergi ke bioskop dan menonton filmnya, tapi karena jadwal
unjung-unjung sanak saudara yang padat serta perasaan mual karena hamil
muda membuat saya menyampingkan keinginan saya. Dan pada akhirnya takdir
menuliskan untuk saya cerita lain yaitu Sabtu (terakhir) Bersama Bapak.
Sabtu
sore tanggal 23 Juli 2016, saya melangkahkan kaki saya dengan
berhati-hati di atas tanah basah, melewati nisan demi nisan milik
penghuni makam yang sudah mendahului. Dengan perut yang mulai membesar,
mata merah dan basah, saya mencoba untuk tegar dan tenang karena saya
ingin mengantarkan bapak untuk terakhir kalinya di peristirahatannya,
setelah bapak menunaikan kewajibannya mengantarkan saya sekolah jenjang demi jenjang, hingga yang terakhir mengantarkan saya di pelaminan kepada pria yang menjadi
suami saya saat ini. Saat saya sendiri ragu, beliau yang memantapkan hati saya.
Friday, July 15, 2016
16 weeks and still counting
Assalamualaikum...
Akhirnya
saya memaksakan diri saya untuk menulis, padahal sebenarnya banyak hal
yang mau diceritakan tapi karena saya sedang masa all day sickness jadi
nggak mood ngapa-ngapain. Yep, I'm pregnant... 16 weeks now and still
counting. Kenapa "all day sickness" karena saya merasa mual nggak cuma
pagi , tapi juga siang, sore, malam, terutama saya merasa parah-parahnya
mual seringnya waktu sore hari. Jadi lebih cocok dinamakan All Day
Sickness ya...
Setelah pengalaman kurang menyenangkan kemarin (baca disini), sama obgyn saya setelah 3 bulan kalau belum hamil dan ingin promil lagi disuruh balik, tapi karena saya malas & lelah, saya tunda dulu, alhamdulillah 5 bulan kemudian bisa alami.
Untuk
kehamilan sekarang memang beda dengan kehamilan sebelumnya, kalau dulu
nggak terlalu merasakan mual, sekarang... sering, jackpot juga kadang.
Mungkin kondisi kehamilan dulu yang BO, kalau sekarang, alhamdulillah di
usia kehamilan 6 minggu udah kedengaran detak jantung janin. Dulu saya
masih doyan makan apa aja, sekarang saya suka eneg sama makanan
berlemak, tahu, susu, sayur tertentu, dan mie ayam. Yep, my all time
favorite food adalah mie ayam dan entah kenapa saya sekarang nggak
doyan. Kadang pas makan nggak mual tapi setengah jam kemudian bisa lari
ke kamar mandi.
Sempat minta obat anti mual sama obgyn tapi setelah minum obat itu, rasanya kepala jadi berat banget dan bisa langsung pules tidur. Malah pernah saya minum waktu libur pas sahur setelah itu seharian saya tidur, jadinya jarang banget saya minumnya
Selain
itu saya juga lebih berhati-hati menceritakan kehamilan saya pada orang
lain, sebenarnya termasuk keluarga di rumah, maksud saya ceritanya
kalau udah jelas ada detak jantungnya aja tapi udah kecium duluan
kayaknya. Di kantor sendiri hanya segelintir orang yang tahu, pikir saya
sih kalau di kantor mah nggak usah dikasih tau ntar juga tau-tau
sendiri.
Untuk
kehamilan sekarang saya juga menjalankan puasa Ramadhan, awalnya sempat
ragu mau puasa atau nggak, tapi setelah konsultasi dokter dan
nanya-nanya ke teman-teman, bismillah saya puasa. Tapi tetap nggak saya
paksakan, kalau di awal udah merasa nggak enak dan muntah-muntah ya
nggak saya lanjutin puasanya. Alhamdulillah cuma bolong 3 hari.
Kali
ini saya juga bersyukur karena lebaran nggak perlu mudik, suami juga
begitu, jadinya kita unjung-unjung dalam kota aja. Sebelumnya saya
pengen banget ngerasain mudik, waktu kecil masih sering mudik ke Malang
sama Madiun, tapi karena sekarang papa yang tertua jadi saudara Malang
yang datang ke Surabaya, sedangkan di Madiun kebanyakan sudah pada
pindah ke Surabaya. Tapi meskipun nggak mudik, ternyata capek juga
sampai flu dan batuk, mungkin selain kecapekan juga kurang jaga makanan,
well in Raya Day every foods and beverages is so tempting right?
Banyak
dengar cerita dari teman-teman tentang resiko puasa saat hamil, apalagi
bisa dibilang usia kandungan saya masih baru masuk trimester pertama,
mulai dari dehidrasi, kekurangan nutrisi, sampai air ketuban kering.
Memang ada kekhawatiran, soalnya saya merasa susah minum air putih
apalagi susu, cuma saya harus pintar-pintar ngaturnya seperti bawa
tumbler kemana-mana termasuk di rumah, jadi kalau dirasa mulut agak
enakan bisa langsung minum. Memperbanyak buah, terutama buah berair
karena menurut saya jadi tambah seger. Dan kalau susah minum susu bisa
konsumsi produk olahannya seperti keju atau es krim.
Monday, May 9, 2016
Meiso Reflexology dari Samsung Galaxy Gift
Dua minggu
lalu, saya dapat voucher dari Samsung Galaxy Gift. Bagi pengguna hp
& tab Samsung Galaxy terutama untuk tipe baru pasti sudah nggak
asing lagi sama Galaxy Gift ini, tapi saya tidak akan bahas itu
sekarang, mungkin suatu saat di postingan tersendiri. Intinya saya baru
dapat voucher Meiso Reflexology dari Samsung Galaxy Gift. Awalnya saya
sendiri belum pernah dengar Meiso, tapi karena saya sudah lama nggak
pijat dan melihat foto promo ada dua orang wanita cantik tersenyum
bahagia, nggak ada salahnya kan nyoba gratisan...
![]() |
| Gambar promo Meiso Reflexology dari Galaxy Gift |
Saya
sebenarnya termasuk penggemar pijat, waktu kecil saya sering sih
dipijat oleh seorang nenek tukang pijat langganan keluarga, tapi untuk
reflexy saya belum pernah. Yang pernah saya coba akhir-akhir ini ya
pijat alternatif waktu kaki saya terkilir, hehehe.. Kalau itu mah pijat
sakit jejeritan ya...
Untuk
lokasi Meiso terdekat dari rumah saya ada di Tunjungan Plaza 4 lt. 4,
bagus lah bisa sekalian cuci mata. Saya telpon dulu booking untuk jam 1
siang, ternyata sampai sana masih sepi. Masuk ke counter disambut
pencahayaan remang-remang dengan alunan musik yang cocok banget buat
relaksasi, tapi jangan salah dengan remang-remang ya, aku mikirnya sih
kalau penerangannya lebih terang lagi, bakal kelihatan banget dari luar
secara counternya pintu kaca yang kelihatan dari luar, lagipula kalau
terlalu terang malah kurang rileks.
Buat
yang berhijab seperti saya juga nggak perlu khawatir, karena terapisnya
bisa milih perempuan dan yang dipijat juga nggak perlu buka baju
meskipun kita minta dipijat full body, iya full body. Awalnya saya pikir
reflexy itu hanya untuk kaki saja, ternyata ditawarin sama terapisnya
untuk pijat full body. Ya, saya nggak nolak lah...
Untuk
perawatan bisa milih durasi ; 1 jam, 1.5 jam, dan 2 jam. Karena voucher
gratisan saya untuk durasi 1 jam ya pilih yang 1 jam, lagipula saya
rasa udah cukup ya refleksi 1 jam. Perawatan diawali dengan kaki saya
direndam di bak air hangat selama kurang lebih 1 menit, trus mulai
dipijat telapak kaki saya, waktu mijat sempat dikasih bedak talc, enak
sih jadinya nggak lengket seperti kalau pakai minyak atau lotion. Terus
lanjut ke bagian tangan, waktu itu jadi ingat kalau creambath di salon
biasanya juga dipijat bagian tangan sama bahu, tapi karena saya sudah
lama nggak creambath di salon karena takut rambut malah rontok jadinya
saya senang-senang aja dipijat di bagian situ.
Setelah
dari tangan lanjut ke punggung, waktu pijat punggung, kursi nya bisa
diatur posisi sandarannya jadi rata, semacam kursi malas yang di pinggir
pantai atau kolam renang untuk berjemur, tapi ini empuk dan nyaman
banget. Jadi saya pijat dengan
posisi telungkup, dan terakhir saya posisi duduk dipijat kepalanya. Last
but not least saya ditawarin secangkir jahe hangat dan lagi-lagi saya
nggak nolak. *Nyengir kuda

![]() |
| Posisi-posisi saya waktu lagi dipijat, serasa di surga.... |
Saya
sendiri kalau dipijat nggak suka yang terlalu keras dan sebagai orang
awam yang belum pernah pijat refleksi sebelumnya, menurut saya
refleksi di Meiso ini enak banget, ditambah pelayanan jahe hangatnya,
apalagi gratisan dari Samsung Galaxy Gift.
Thursday, March 31, 2016
Join Basic Decoupage Workshop
Jadi ceritanya saya lagi hobi ikutan workshop art & craft, mulai dari nyobain melukis cat air, beli mesin jahit (tapi sampai sekarang masih dianggurin, heve u any idea where should I start?) sampai waktu itu nggak sengaja buka instagram salah satu cafe yang akan mengadakan Decoupage Workshop. Apakah decoupage itu? Lebih lanjut bisa di klik disini. Saat itu pengetahuanku sebagai orang awam tentang decoupage hanya sebatas seni menempel dari Prancis. Beberapa kali juga sudah pernah lihat ads workshop decoupage yang biasanya medianya berupa perabotan seperti telenan, jam dinding, botol, dll. Cuma... ads yang satu ini menarik hatiku karena di pic nya menggunakan media clutch anyaman pandan yang cantik menik-menik, pikirku sih media berupa clutch ini bagus banget, kenapa...? Karena kalau clutch kan bisa di bawa dan dipamerkan secara langsung ke banyak orang yang melihat kita, beda dengan perabot-perabot seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kemungkinan untuk dipamerkan secara langsung hanya pada saat ada tamu berkunjung ke rumah kita (mana mungkin kita bawa telenan ke luar rumah?)
![]() |
| taken from Libreria Eatery IG |
![]() |
| taken from Libreria Eatery IG |
![]() |
| taken from Libreria Eatery IG |
Jadi
sebelum workshop dimulai kita disuruh pilih model tas dan motif kertas
tisu. Yup, decoupage ini ternyata menggunakan kertas tisu atau biasa lebih dikenal tisu napkin, aku pikir
pakai kertas khusus. Pada dasarnya semua tisu napkin yang ada gambarnya bisa
digunakan, tetapi untuk clutch ini tentu motifnya yang cantik-cantik
(sampai galau pas milih). Yang aku pilih adalah clutch polos dengan
kertas tisu motif mawar yang kalem & sweet. Untuk pemilihan kertas
tisu ini memang gampang-gampang susah, kalau bisa pemula ini cari motif
yang tidak susah buat dipotong dan ditempel karena ada resiko keriput, sobek,
dll. Cuma kalau udah biasa pasti bisa.
Bahan-bahan yang diperlukan :
1. Kertas Tisu bermotif
2. Media untuk ditempelkan (bisa perabot yang saya sebut di atas/tas)
3. Gunting bengkok (bencong)
4. Kuas untuk lem
5. Lem (lemnya harus cair, kalau pas workshop menggunakan lem khusus)
6. Finisher (teksturnya seperti lem tapi lebih encer lagi)
Cara Pembuatan :
1. Gunting kertas tisu tepat pada garis motif yang akan ditempel, lalu tarik lapisan tisu hingga tinggal 1 lapisan saja.
2. Lem media yang akan digunakan menggunakan kuas.
3. Tempelkan kertas tisu yang sudah digunting tadi. Nempelnya pelan-pelan ya, biar rapi dan nggak robek
4. Baurkan lem ke atas tisu yang sudah ditempel menggunakan kuas.
5.
Selanjutnya ke proses pengeringan. Menurut Kak Ika Salim, pengeringan
paling baik menggunakan sinar matahari, tapi bisa juga menggunakan hot
dryer atau hair dryer.
6. Ulangi proses 4 & 5 sampai dirasa sudah rapi.
7. Finishing tisu yang sudah ditempel tadi menggunakan kuas.
8. Ulangi proses 5 & 7
Hasil kreasi kita bisa dibawa pulang lho...
Sebenarnya
nggak ada yang benar dan salah dalam art & craft, cuma dituntut
rapi & hati-hati agar hasilnya juga bagus. Ternyata menggunakan
media anyaman pandan ini juga membantu untuk pemula karena teksturnya
yang nggak rata jadi bisa menyamarkan bagian-bagian yang kurang rapi
waktu proses menempel tadi.
Intinya this workshop was worth every pennies for me, selain itu juga banyak dapat kenalan baru. Semoga bisa ikut lagi di workshop selanjutnya. #marikitanabung
Berikut hasil kreasi para peserta (gambar diambil dari facebook penyelenggara event, Mbak Tary)
Monday, February 15, 2016
Wedding Vendor
Setelah bingung memilih topik apa yang mau saya tulis untuk blog saya
yang sempat mati suri atau hiatus istilah kerennya. Akhirnya saya
memutuskan untuk menulis tentang vendor - vendor dan cerita behind the
scene dari pernikahan saya yang telah dilaksanakan dua tahun lalu
(moga-moga saya masih ingat).
Dalam menentukan vendor sendiri saya juga banyak browsing dan dapat masukan dari teman maupun saudara, jadi saya juga ingin berbagi, syukur-syukur bisa jadi referensi atau ada yang terinspirasi
Rencana pernikahan saya memang relatif cepat, kalau dihitung-hitung persiapannya kurang lebih kurang dari setahun.Sebenarnya kalau boleh memilih, saya cuma pengen syukuran nikah aja, kecil-kecilan dan saya sendiri bisa mingle ke tetamu yang datang, akan tetapi mama saya berdalih keluarga dan saudara jauh juga banyak yang akan diundang karena sekalian silaturahmi (dan ajang reuni juga). Yah.., kalau dipikir-pikir selain saudara jauh, saudara kandung dari orang tua saya sendiri juga sudah banyak, belum sepupu-sepupu saya dan keluarga suami saya. Akhirnya saya manut saja.
Berikut vendor-vendor utama dalam pernikahan :
1. Gedung / Lokasi
Salah satu faktor dalam menentukan tanggal pernikahan saya tergantung dengan tanggal dari gedung incaran yang tersedia. Awalnya gedung yang saya pilih adalah Graha ITS, waktu itu sudah full booked untuk weekend selama setahun ke depan, busyeettt... Akhirnya pilihan jatuh ke Gedung Robotika yang masih satu kawasan. Saya sendiri belum pernah masuk ke dalamnya tapi sudah sering lewat, kalau dari luar bentuknya cukup unik, sangat modern & minimalis. Yang saya tahu biasanya gedung ini digunakan untuk kontes robot tapi ternyata bisa disewa untuk pernikahan. Kebetulan juga ada yang kosong pas hari Minggu, ya udah.
2. Rias Pengantin
Ini yang awalnya agak lama memutuskan, karena banyak faktor pertimbangan untuk memilih yang sesuai. Salah satu faktor yang saya harapkan adalah tentu riasannya yang paripurna, tahan lama dari pagi sampai selesai acara, dan kalau orang Jawa bilang "manglingi" beda dengan penampilan pengantin kesehari-harinya. Selain itu juga harga harus sesuai budget.
Semula mama dapat referensi Sanggar Rias Kerinci dari salah seorang temannya, tapi karena sanggarnya tidak buka pada weekend saya agak kesulitan menentukan jadwal untuk fitting dll. Akhirnya saya sempat mengunjungi booth pamerannya, kalau saya lihat foto dari hasil riasannya memang cukup halus dan menurut saya juga bagus, tapi kok saya kurang cocok sama busana pengantinnya (hal ini benar-benar masalah selera ya...
Setelah itu saya ke Puri Kencana Ayu (PKA) asuhan Bu Narti, kalau tidak salah sekarang namanya berubah jadi Griya Kencana Ayu, datang pas weekend saya memang tidak bertemu dengan Bu Narti yang merias, tapi saya disambut dengan ramah oleh salah satu stafnya (maaf lupa nama tapi kalau wajah saya masih ingat sampai sekarang) di sana kita diskusi keinginan kita, serta dijelaskan adat dan pakem dari busana tersebut.
Awalnya saya berniat menggunakan adat Yogyakarta dengan busananya yang beludru polos terutup dan biasanya berwarna gelap itu, tapi setelah diskusi dikarenakan jadwal akad dan resepsi yang terlalu mepet jadi tidak memungkinkan untuk ganti busana (dibutuhkan waktu kurang lebih 3 jam).
Di GKA ini koleksi kebaya pengantinnya ada buku katalognya komplit dari kebaya resepsi sampai kebaya simple untuk siraman / midodareni juga ada tapi karena saya tidak mengadakan acara siraman maupun midodareni jadi saya hanya memilih kebaya untuk resepsi, jadi kita bisa lihat-lihat dulu sebelum memutuskan untuk memilih dan bisa langsung dicoba.
Akhirnya saya tertarik mencoba kebaya panjang berwarna pink fanta perpaduan gold dengan aksen seperti obi, menurut saya terlihat elegant dan tidak terlalu ramai. Waktu Bang Il ditanya juga setuju, jadi fixed. Selain rias & busana pengantin saya menyerahkan dekorasi, MC dan tetek bengeknya ke sini, kalau mau fotografer jadi satu di sini juga bisa.
Kalau menurut kesimpulan saya di PKA itu busananya pakem termasuk beskap, blangkon dari pager bagus harus sesuai dengan aturan yang ada, sangat sesuai dengan yang mau adat Jawa total. Sedangkan di Kerinici bisa modifikasi, kalau lainnya saya kurang tahu karena cuma survey dua sanggar rias itu saja.
3. Catering
Saya menggunakan Hidayah tapi urusan catering saya serahkan semuanya ke Mama karena waktu itu saya sibuk kerja. Mulai dari pemilihan makanan, jumlah, dll mama yang menyesuaikan & menentukan. Berdasarkan cerita orang-orang sih alhamdulillah banyak yang puas dan memuji, menurut saya sendiri... entahlah, cuma sempat makan sedikit hidangan yang sudah nggak terlalu panas setelah turun dari koade, hiks..
4. Fotografer
Kalau ini saya serahkan sama Bang Il, kebetulan ada temannya yang fotografer, tapi saya juga tetap terlibat dan ikut diskusi. Saya sama suami juga sudah kekeuh untuk tidak memakai foto prewed, tidak ada alasan khusus sih, mungkin karena saya pribadi merasa kurang terlalu bermanfaat dan menghemat budget (yah, pikiran orang beda-beda kan..)
5. Souvenir
Untuk souvenir saya nggak mau yang terlalu ribet tapi harus bagus dilihat, bermanfaat dan sesuai budget. Cari souvenir di Surabaya pasti orang-orang akan menyarankan ke Pusat Grosir Surabaya (PGS). Sampai di sana saya langsung bingung mau pilih yang mana karena ada puluhan toko souvenir yang menyediakan puluhan macam souvenir dalam satu toko, jadi saya sarankan sebelum pesan ke satu toko mending membandingkan dulu harga ke toko lainnya, karena rata-rata jenis souvenirnya hampir sama antara satu toko dengan toko lainnya, seperti pengalaman saya. Dan souvenir pilihan saya jatuh pada kotak penyimpanan seperti gambar berikut. Yang kefoto ini salah satu saja karena bentuk dan motif random dari vendornya.
6. Undangan
Untuk satu ini saya agak sedikit kurang puas, apa dayalah saya yang hanya manusia biasa. Mungkin saya yang terlalu bingung dan banyak maunya, mungkin juga karena waktu agak mepet karena ada masalah di tengah jalan, tapi tak usahlah dibahas lagi.
Saran saya undangan itu harus pesan jauh hari sebelumnya, minimal 1 bulan - 3 minggu sebelum hari H harus sudah siap (ada vendor yang butuh waktu 40 hari sebelum jadi), selain itu kita juga harus teliti mengecek huruf demi huruf yang ada di undangan tersebut.
Kalau kita bingung memikirkan desain undangan bisa pilih yang sudah jadi, sekarang ini banyak sekali undangan yang unik, bagus, dan harga terjangkau jadi kita tinggal menyesuaikan nama dan acara kita.
Sekian dulu ulasan tentang pernikahan saya, semoga dapat membantu, bermanfaat, dan barokah untuk orang lain.
Dalam menentukan vendor sendiri saya juga banyak browsing dan dapat masukan dari teman maupun saudara, jadi saya juga ingin berbagi, syukur-syukur bisa jadi referensi atau ada yang terinspirasi
Rencana pernikahan saya memang relatif cepat, kalau dihitung-hitung persiapannya kurang lebih kurang dari setahun.Sebenarnya kalau boleh memilih, saya cuma pengen syukuran nikah aja, kecil-kecilan dan saya sendiri bisa mingle ke tetamu yang datang, akan tetapi mama saya berdalih keluarga dan saudara jauh juga banyak yang akan diundang karena sekalian silaturahmi (dan ajang reuni juga). Yah.., kalau dipikir-pikir selain saudara jauh, saudara kandung dari orang tua saya sendiri juga sudah banyak, belum sepupu-sepupu saya dan keluarga suami saya. Akhirnya saya manut saja.
Berikut vendor-vendor utama dalam pernikahan :
1. Gedung / Lokasi
Salah satu faktor dalam menentukan tanggal pernikahan saya tergantung dengan tanggal dari gedung incaran yang tersedia. Awalnya gedung yang saya pilih adalah Graha ITS, waktu itu sudah full booked untuk weekend selama setahun ke depan, busyeettt... Akhirnya pilihan jatuh ke Gedung Robotika yang masih satu kawasan. Saya sendiri belum pernah masuk ke dalamnya tapi sudah sering lewat, kalau dari luar bentuknya cukup unik, sangat modern & minimalis. Yang saya tahu biasanya gedung ini digunakan untuk kontes robot tapi ternyata bisa disewa untuk pernikahan. Kebetulan juga ada yang kosong pas hari Minggu, ya udah.
2. Rias Pengantin
Ini yang awalnya agak lama memutuskan, karena banyak faktor pertimbangan untuk memilih yang sesuai. Salah satu faktor yang saya harapkan adalah tentu riasannya yang paripurna, tahan lama dari pagi sampai selesai acara, dan kalau orang Jawa bilang "manglingi" beda dengan penampilan pengantin kesehari-harinya. Selain itu juga harga harus sesuai budget.
Semula mama dapat referensi Sanggar Rias Kerinci dari salah seorang temannya, tapi karena sanggarnya tidak buka pada weekend saya agak kesulitan menentukan jadwal untuk fitting dll. Akhirnya saya sempat mengunjungi booth pamerannya, kalau saya lihat foto dari hasil riasannya memang cukup halus dan menurut saya juga bagus, tapi kok saya kurang cocok sama busana pengantinnya (hal ini benar-benar masalah selera ya...
Setelah itu saya ke Puri Kencana Ayu (PKA) asuhan Bu Narti, kalau tidak salah sekarang namanya berubah jadi Griya Kencana Ayu, datang pas weekend saya memang tidak bertemu dengan Bu Narti yang merias, tapi saya disambut dengan ramah oleh salah satu stafnya (maaf lupa nama tapi kalau wajah saya masih ingat sampai sekarang) di sana kita diskusi keinginan kita, serta dijelaskan adat dan pakem dari busana tersebut.
Awalnya saya berniat menggunakan adat Yogyakarta dengan busananya yang beludru polos terutup dan biasanya berwarna gelap itu, tapi setelah diskusi dikarenakan jadwal akad dan resepsi yang terlalu mepet jadi tidak memungkinkan untuk ganti busana (dibutuhkan waktu kurang lebih 3 jam).
Di GKA ini koleksi kebaya pengantinnya ada buku katalognya komplit dari kebaya resepsi sampai kebaya simple untuk siraman / midodareni juga ada tapi karena saya tidak mengadakan acara siraman maupun midodareni jadi saya hanya memilih kebaya untuk resepsi, jadi kita bisa lihat-lihat dulu sebelum memutuskan untuk memilih dan bisa langsung dicoba.
Akhirnya saya tertarik mencoba kebaya panjang berwarna pink fanta perpaduan gold dengan aksen seperti obi, menurut saya terlihat elegant dan tidak terlalu ramai. Waktu Bang Il ditanya juga setuju, jadi fixed. Selain rias & busana pengantin saya menyerahkan dekorasi, MC dan tetek bengeknya ke sini, kalau mau fotografer jadi satu di sini juga bisa.
Kalau menurut kesimpulan saya di PKA itu busananya pakem termasuk beskap, blangkon dari pager bagus harus sesuai dengan aturan yang ada, sangat sesuai dengan yang mau adat Jawa total. Sedangkan di Kerinici bisa modifikasi, kalau lainnya saya kurang tahu karena cuma survey dua sanggar rias itu saja.
3. Catering
Saya menggunakan Hidayah tapi urusan catering saya serahkan semuanya ke Mama karena waktu itu saya sibuk kerja. Mulai dari pemilihan makanan, jumlah, dll mama yang menyesuaikan & menentukan. Berdasarkan cerita orang-orang sih alhamdulillah banyak yang puas dan memuji, menurut saya sendiri... entahlah, cuma sempat makan sedikit hidangan yang sudah nggak terlalu panas setelah turun dari koade, hiks..
4. Fotografer
Kalau ini saya serahkan sama Bang Il, kebetulan ada temannya yang fotografer, tapi saya juga tetap terlibat dan ikut diskusi. Saya sama suami juga sudah kekeuh untuk tidak memakai foto prewed, tidak ada alasan khusus sih, mungkin karena saya pribadi merasa kurang terlalu bermanfaat dan menghemat budget (yah, pikiran orang beda-beda kan..)
5. Souvenir
Untuk souvenir saya nggak mau yang terlalu ribet tapi harus bagus dilihat, bermanfaat dan sesuai budget. Cari souvenir di Surabaya pasti orang-orang akan menyarankan ke Pusat Grosir Surabaya (PGS). Sampai di sana saya langsung bingung mau pilih yang mana karena ada puluhan toko souvenir yang menyediakan puluhan macam souvenir dalam satu toko, jadi saya sarankan sebelum pesan ke satu toko mending membandingkan dulu harga ke toko lainnya, karena rata-rata jenis souvenirnya hampir sama antara satu toko dengan toko lainnya, seperti pengalaman saya. Dan souvenir pilihan saya jatuh pada kotak penyimpanan seperti gambar berikut. Yang kefoto ini salah satu saja karena bentuk dan motif random dari vendornya.
6. Undangan
Untuk satu ini saya agak sedikit kurang puas, apa dayalah saya yang hanya manusia biasa. Mungkin saya yang terlalu bingung dan banyak maunya, mungkin juga karena waktu agak mepet karena ada masalah di tengah jalan, tapi tak usahlah dibahas lagi.
Saran saya undangan itu harus pesan jauh hari sebelumnya, minimal 1 bulan - 3 minggu sebelum hari H harus sudah siap (ada vendor yang butuh waktu 40 hari sebelum jadi), selain itu kita juga harus teliti mengecek huruf demi huruf yang ada di undangan tersebut.
Kalau kita bingung memikirkan desain undangan bisa pilih yang sudah jadi, sekarang ini banyak sekali undangan yang unik, bagus, dan harga terjangkau jadi kita tinggal menyesuaikan nama dan acara kita.
Sekian dulu ulasan tentang pernikahan saya, semoga dapat membantu, bermanfaat, dan barokah untuk orang lain.
Subscribe to:
Posts (Atom)








